Kondisi yang membuat Hukum Ibadah Haji menjadi Sunnah

Hukum ibadah haji sendiri dibagi menjadi 4 jenis yaitu seperti wajib, sunnah, makruh, serta haram. Empat hukum tersebut berdasarkan pada kondisi atau keadaan tertentu. Ibadah ini pun bisa menjadi wajib namun juga dapat menjadi ibadah haji yang hukumnya sunnah.

Kondisi atau Keadaan Ibadah Haji yang Hukumnya Sunnah

Hukum ibadah haji haji bisa menjadi sunnah, contohnya yaitu ketika melakukan haji sudah yang ke-2 kalinya. Selain itu bisa juga sunnah apabila dilaksanakan oleh seorang anak dalam kondisi belum baligh, namun sudah mumayyiz. Untuk ulasan lebih lengkapnya, Anda bisa membaca di bawah.

1.   Sudah Pernah Pergi Haji Sebelumnya

Ibadah haji hukumnya dapat menjadi sunnah apabila Anda sudah pernah melaksanakan sebelumnya. Jadi bisa dikatakan bahwa haji yang ke-2 kali dan seterusnya hukumnya sunnah. Hal itu  bisa berbeda hukumnya saat Anda pernah pergi haji, sehingga hukumnya wajib.

Bisa dikatakan bahwa seseorang yang pernah beribadah haji, hukumnya menjadi sunnah dikarenakan perintah Allah melaksanakannya memang hanya satu kali saja seumur hidup. Pernyataan ini berdasarkan pada hadis dari Rasulullah Muhammad SAW.

Hadis tersebut menyampaikan bahwa seandainya apabila Rasulullah mengatakan wajib, pasti para umat muslim tidak akan mampu melaksanakannya. Hadis ini merupakan riwayat dari Muslim. Anda juga dapat menjadikan sumber hadis itu sebagair referensi untuk mengetahui hukum ibadah haji.

Apalagi hadis-hadis yang diramu oleh seorang Muslim tergolong hadis sahih dan bisa dipercaya keasliannya. Pernyataan itu berarti bahwa hadis riwayat Muslim bukanlah hadis palsu atau dhaif, sehingga sudah terjamin dan bukan karangan belaka.

2.   Seseorang yang Belum Baligh

Ibadah haji yang hukumnya sunnah bisa juga dikarenakan keadaan seorang anak belum baligh dan mengerjakan ritual ibadahnya secara keseluruhan. Contoh kasus tersebut, hukum ibadah hajinya menjadi sunnah bagi dirinya sendiri.

Sehingga bisa dilihat bahwa ketika anak tersebut sudah tumbuh menjadi dewasa dan mampu pergi haji, maka akan hukumnya akan tetap menjadi wajib serta harus dikerjakan setelah sudah baligh nanti. Maka dapat disimpulkan bahwa hukum ibadah haji sendiri tergantung pada situasi dan kondisi.

Hadis dan Pendapat Ulama

1.   Bukhori dan Muslim meriwayatkan sebuah hadis, disebutkan bahwa Allah sesungguhnya mencatat semua kebaikan dan kejelekan. Kemudian dijelaskan Allah juga mencatat satu kebaikan sempurna jika ada seseorang yang mempunyai tekad berbuat kebaikan namun tidak dapat terlaksana. Apabila orang tersebut bertekad dan bisa terpenuhi untuk melakukannya, maka Allah mencatatnya sebagai 10 kebaikan. Bahkan bisa sampai dengan 700 kali lipat hingga berkali-kali lipat. Sama halnya ketika seseorang sudah berniat ibadah haji, belum bisa terlaksana pun sudah mendapatkan pahala. Apalagi jika niat tersebut terlaksana, maka Allah memberikan pahala yang berlipat ganda.  

2.   Sementara itu, seorang ulama bernama Sa’id bin Al Musayyib yang termasuk golongan para tabi’in mengatakan bahwa  jika seseorang mempunyai tekad untuk melakukan puasa, shalat, haji, berjihad, atau umroh, maka Allah mencatatnya sesuai dengan yang diniatkan.

Dalam hal haji dan umroh, MuslimPergi memiliki aplikasi umroh dan haji yang sangat membantu para biro travel dan juga calon jamaah untuk menunaikan ibadah tersebut. Aplikasi umroh tersebut memberikan banyak manfaat tidak hanya untuk travel Anda, tetapi juga para calon jamaah. Ada juga menu pilihan menghitung thawaf secara otomatis dan bisa dipakai ketika di Mekkah.

Tag: ibadah haji, hadist ibadah haji, hukum ibadah haji

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *